Big Decision, Great Companion

Awal tahun ini dibuka dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Libur awal tahun? No!. Lah kok bisa? Yap, saat itu saya masih bekerja di perusahan IT yang memiliki layanan customer service 24 jam.  Saya yang bekerja sebagai Customer Success Specialist ini kebagian ngeshift pas tanggal 1 Januari-nya. Nah otomatis saya harus memenuhi panggilan tugas dong. It’s okay, there was also good incentives for it ^u^

Flashback dulu:

Selain bekerja, saya juga sedang melanjutkan kuliah S2 di salah satu fakultas negeri di kota tempat saya tinggal, Jember. Jadi di pertengahan 2020 lalu saya yang saat itu mulai “menghidupkan” kembali blog personal saya, memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2. Di ranah akademik, saya punya mimpi menjadi dosen. Dan lagi, sudah diputuskan bahwa saat itu perkuliahan akan diadakan secara daring. Hal ini meyakinkan saya bahwa dengan mengambil kuliah, saya masih bisa “produktif” dari internet. Salah satunya dari ngeblog.

Mengenal dunia blogging sebenarnya sudah cukup lama. Domain fajriwildana.com sendiri saya daftarkan di akhir 2018 dengan niat membuat blog yang berisi opini saya terhadap apapun (jadinya blog gado-gado). Beberapa kali memposting artikel dan reset website (instal ulang CMS WordPress, jadi kosongan lagi blognya). Entah mengapa benturan ide dan informasi yang saya dapatkan tidak bisa dituangkan dengan selaras di blog. Sampai akhirnya pada pertengahan 2020 saya memutuskan untuk mengisi blog saya dengan konten seputar internet marketing dan tips blogging berdasarkan pengalaman. 

Berjalan 1 semester perkuliahan, apa yang saya perkirakan tentang progres blog saya tidak berjalan sesuai dengan rencana. Personal blog yang saya bangun kembali tak kunjung earning dalam jumlah yang cukup. Ada yang salah. Akhirnya saya memutuskan untuk apply pekerjaan yang bisa memberikan saya penghasilan tetap setiap bulannya. Hampir bersamaan dengan dimulainya semester ke-2 perkuliahan, saya diterima bekerja sebagai Customer Success Specialist. Pekerjaan yang dilakukan secara remote dengan fasilitas lengkap dari kantor. Selain itu salary dan tunjangan lainnya bisa dibilang “lebih” untuk bujang yang hidup di kota kecil seperti saya. Oh ya, sampai saat ini saya tinggal di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

lagi WFH, di kamar tercinta

Pilihan yang Berat, Keputusan Besar

Berjalan 2 semester dimana saya membagi waktu serta energi antara kuliah dan kerja. Pastinya ada hal yang dikorbankan. Yap, tak seperti bayangan saya, ternyata dengan bekerja remote serta kuliah daring tidak membuat saya dapat “merawat” blog saya dengan baik. Alhasil, mangkir untuk kesekian kalinya. Efek zona nyaman? Mungkin saja. Disini saya mulai berpikir tentang next step yang akan saya ambil.

The trouble

Tiba waktunya libur perkuliahan menjelang semester ke 4. Saya dihadapkan dengan tanggungjawab baru. Waktunya mengerjakan tesis. Gejolak baru-pun muncul. Pengalaman bekerja sambil kuliah selama 2 semester membuat saya retoris:

“Bisa nggak ya saya tetap bekerja sambil ngerjain tesis? Kalaupun iya, bisa cepet nggak ya prosesnya?”

Butuh waktu hampir 1 bulan untuk menjawab retorika tersebut. Hingga suatu hari di bulan Januari 2022 saya mengambil keputusan. A big decision. Saya bisa bilang bahwa ini adalah keputusan terbesar yang pernah saya ambil terkait dengan karir dan studi saya. Saya mengajukan resign dari perusahaan.

Banyak pihak yang menyayangkan keputusan saya. Orang tua, saudara, rekan kerja, sampai tandem ngopi pun seperti tidak rela dengan keputusan saya. Bagaimana mau legowo, wong sudah enak di perusahaan besar dan jenjang karir yang sangat menjanjikan kok malah dilepas? Dengan mantab saya menjawab bahwa ini adalah sebuah responsible decision. Sebelum saya jabarkan tentang hal tersebut, seorang sahabat datang menanyakan: “Pilihanmu emang udah bener, bro?”

Well, who knows? Ragu? Tidak sama sekali. Saya setuju dan mengamini quote berikut: 

“It’s not about making the right choice. It’s about making a choice and making it right.”

J.R. Rim.

So, sudah menjadi tanggungjawab saya untuk membuktikan bahwa keputusan yang saya ambil adalah yang terbaik. I will! Begini ceritanya..

Untuk mengerjakan tesis memang merupakan alasan utama mengapa saya resign. Saya menyadari bahwa tidak mungkin saya bisa mengerjakan tesis dengan optimal jika masih bekerja di posisi tersebut. Pada intinya stress dan penat 8 jam kerja tiap harinya membuat saya tidak memiliki energi lagi untuk mengerjakan hal lain, apalagi yang sifatnya akademis. Jelas tidak bisa dikerjakan sembarangan. Waktu yang saya miliki setelah bekerja rasanya hanya ingin saya gunakan untuk healing saja. Hal ini otomatis merembet ke side-hustle saya. Salah satunya personal blog ini. 

Blogger?

Kurang cocok rasanya jika saya memutuskan untuk membranding diri sebagai blogger. Jadi setelah resign saya memiliki beberapa kegiatan untuk menunjang perekonomian, baik yang baru saja saya mulai maupun yang sebelumnya sudah berjalan namun terbengkalai. Saat ini saya mengerjakan beberapa blog, menjalankan jasa pembuatan website dengan brand Visuora, serta memanage sebuah portal berita nasional Laros Media dengan kawan saya. Ya, dengan penuh optimisme saya berani mengambil keputusan untuk “menukar” karir di perusahaan sebelumnya dengan profesi yang sedang saya perjuangkan, sebagai seorang digital entrepreneur. Atau lebih populernya sekarang disebut digitalpreneur.

Akademisi dan Digitalpreneur – Two Different Worlds

Hari-hari sebagai digitalpreneur menuntut saya untuk selalu produktif. Satu hal yang juga menjadi tantangan adalah bagaimana cara saya menjalani 2 bidang yang berbeda dengan selaras. Banyak hal memang yang menjadi kendala dalam saya menjalaninya. Selain dituntut disiplin dalam manajemen waktu, tuntutan untuk selalu mengembangkan skill juga pasti ada, apalagi di dunia digital yang saat ini semakin diminati. Hal ini juga tak bisa lepas dari dukungan “alat tempur” sehari-hari yang saya gunakan.

ASUS A555L yang selama ini setia menemani

Saya akui memang laptop yang saat ini saya gunakan telah berjasa besar dalam membawa saya sampai ke titik ini. Namun tidak dipungkiri bahwa semakin maju teknologi melahirkan software yang lebih canggih. Software dengan fitur yang lebih cangih dan lengkap memang dibuat untuk memudahkan kinerja. Namun pemanfaatan fitur tersebut harus dibersamai dengan kompatibilitas hardware pengguna. Karenanya, saya memerlukan laptop baru yang dapat menunjang produktifitas saya. Mulailah pencarian ini, ehemm..

Gayung bersambut. Ya begini keuntungan kalau sudah subscribe ke channel official youtubenya ASUS. Gak bakal ketinggalan informasi! Mending subscribe dulu yuk buat yang belum >>

ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Jadi sekitar 5 bulan lalu ASUS mengumumkan peluncuran produk terbarunya yakni ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) melalui video di channel youtubenya. Benar saja, saya yang sudah lama kepincut dengan performa dan daya tahan laptop ASUS makin dibikin ngiler dengan fitur serta tampilan yang mereka tawarkan dari Si Zenbook ini. Saya lihat video tersebut tanpa skip sedikit pun. Gila! Makin makin ngilerrr. Parah nih laptop!

Zenbook 14X OLED (UX5400) International Release

Keinginan untuk memiliki laptop ini semakin mendekati kenyataan. Saya dan semua pihak yang sudah tidak sabar memilikinya tentunya bisa sedikit bernafas lega. Yap, laptop Zenbook 14X OLED (UX5400) saat ini sudah tersedia di market Indonesia!

Oke, spesifikasinya sangat mumpuni. Lalu terbayang “apa yang bisa saya lakukan dengan laptop ini??”

Hmm, tidak sulit untuk menjawab pertanyaan yang saya munculkan sendiri tersebut. Karena pada dasarnya spesifikasi yang diusung laptop ini sangat tinggi dan pastinya bisa menunjang kinerja pekerjaan ringan seperti office work maupun pemakaian berat seperti edit dan render video, bahkan gaming! Bagaimana tidak, laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics. Akan lebih pas rasanya jika saya coba utarakan bagaimana Si Zenbook impian saya ini akan menemani dan meningkatkan produktifitas saya sehari-hari. Yuk kita mulai..

Performa Juara

Dipersenjatai dengan prosesor Intel® Core™ generasi ke 11, tentunya membuat performa laptop ini sangat kencang dan menunjang kegiatan saya yang setiap harinya memerlukan multitasking. Bayangkan saja pernah dalam satu waktu mengharuskan saya membuka beberapa profile google chrome, cek discord untuk koordinasi dengan penulis di portal berita, serta zoom meeting dengan pihak manajemen kemitraan portal berita tersebut. Jujur saja dalam kondisi seperti itu saya rajin-rajin buka task manager untuk mengontrol aplikasi mana yang mengkonsumsi resource lebih untuk menghindari serangan not responding ke aplikasi yang saya buka. Merepotkan bukan? Apalagi kalau task managernya ikutan not responding, hadeeehhh..

Dan terjadi lagi… ~ Via: 9gag

Dalam kondisi defaultnya saja, prosesor ini sudah sangat kencang dan mumpuni menghandle aplikasi yang memerlukan resource tinggi untuk berjalan dengan lancar. Apalagi laptop ini sudah dilengkapi dengan penyimpanan PCIe® 3.0 x4 SSD dengan kapasitas 1 TB. Selain kapasitas yang sangat lega, teknologi yang diusung juga merupakan jenis SSD terbaik saat ini. Tidak berhenti disitu, kegiatan multitasking memerlukan konsumsi RAM yang tinggi. Karenanya ASUS memberikan memori hingga 16 GB. Fix ini, no lag, no lemot!

Masih kurang? Baiklah. Memang kalau lagi on fire bisa sering lupa jika laptop yang saat ini saya gunakan overused. Jadi suka kebablasan buka ini-itu, yang awalnya ingin makin produktif malah kebalikannya karena laptop yang ngefreeze lah, yang ngehang lah. Nah lagi-lagi ASUS menjawab kebutuhan saya dimana Zenbook 14X OLED ini dilengkapi dengan fitur bernama ASUS Intelligent Performance Technology (AIPT) yang hadir dengan tiga mode performa yang bisa dipilih yaitu Performance Mode, Balance Mode, serta Whisper Mode. Singkatnya, jadi dengan adanya fitur ini kita bisa nge-boost performa laptop hingga 70% lebih kencang daripada laptop sesama pengguna Intel CPU generasi 11 lainnya.

Performance boost up to 70% ~ Via: Asus.com
Peningkatan performa di beberapa aplikasi ~ Via: Asus.com

Wih, gak kasian tuh laptop jadi kepanansan? Eits tenang dulu, belum selesai nih ceritanya. Adanya fitur boost tersebut tentu beresiko laptop overheat. Namun laptop ini pengecualian lho. Bukan tanpa alasan, laptop ini juga dibekali dengan teknologi Aerodynamic IceBlades yang dapat mempercepat pendinginan temperatur CPU. Sedikit gambaran tentang “kipas” ini, setiap bilah kipas IceBlades memiliki desain aerodinamis melengkung 3D, memungkinkan kipas mencapai laju aliran yang lebih baik. Selain itu, kipas IceBlades juga menggunakan bantalan dinamika fluida, yang dapat menghasilkan pengurangan getaran yang lebih baik dan kebisingan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kipas biasa. Gimana? Jadi gak perlu ragu lagi nih kalau-kalau memang diperlukan untuk nge-boost performa laptop biar makin produktif ya kan. Oh ya, untuk cara nge-boostnya juga gak susah kok. Tanpa perlu repot setting ini itu, cukup dua tombol yakni Fn+F, dan boom! Kenceng parah!

Belum lagi teknologi WiFi yang diusung yakni WiFi 6 yang saat ini merupakan teknologi tercanggih yang memungkinkan koneksi internet makin stabil. Teknologi ini juga membantu load konten online makin cepat, secepat kedipan mata. Jelas fitur yang sangat menunjang produktifitas. Thanks untuk ASUS WiFi Master Premium Technology.

Wrap up: Berikut hasil benchmark yang saya dapatkan dari laptophia.com:

Benchmark Asus Zenbook 14X OLED UX5400EG
Benchmark Asus Zenbook 14X OLED UX5400EG
Benchmark Asus Zenbook 14X OLED UX5400EG
Benchmark Asus Zenbook 14X OLED UX5400EG

Workflow yang lebih Efisien

Berpindah-pindah jendela aplikasi merupakan kegiatan yang sangat kerap saya lakukan dalam multitasking. Saya yakin Anda pun juga demikian. Fitur canggih yang diusung di Zenbook ini tidak banyak ditemukan di kelas laptop premium lainnya. Yap,  ScreenPad™ 2.0 yang hadir menjawab kebutuhan dalam bermultitasking. Kini touchpad pada laptop sudah bertambah fungsinya sebagai layar sekunder dengan banyak fitur.

Tampilan Screenpad 2.0 yang manis ala smartphone ~ Via: Asus.com

Dengan adanya screenpad ini, memudahkan saya untuk membookmark dan mengakses kembali aplikasi yang paling banyak saya gunakan sehari-harinya. Fungsinya sebagai layar kedua juga membantu saya untuk tetap produktif tanpa mengorbankan fokus saya pada layar utama. Semakin tidak terbatasi, apapun aplikasi yang dari layar utama dapat kita pindahkan ke ScreenPad™ 2.0 dengan adanya fitur App Switch. Fitur App Navigator juga merupakan salah satu fitur yang akan membantu saya dalam bekerja dimana memudahkan saya melihat dan melakukan manajemen aplikasi yang sedang dibuka di layar utama serta ScreenPad™ 2.0. Kustomisasi fitur Quick Key juga sangat membantu dimana kita bisa mengakses berbagai shortcut Windows tanpa perlu menghafalkan kombinasi tombol di keyboard lagi. Berpindah jendela aplikasi jadi lebih mudah dan cepat!

Bekerja dan berkolaborasi dimana saja

Ini dia kumpulan fitur yang disuntikkan ASUS ke Zenbook 14X OLED yang paling sesuai dengan kebutuhan saya. Sebelumnya sudah saya sampaikan beberapa kegiatan utama saya yang dimana saya benar-benar memerlukan laptop ini. Salah satunya adalah jasa pembuatan website: Visuora. Beberapa project yang sudah saya dan partner kerjakan datang dari circle pertemanan yang masih di lingkup kota kecil tempat saya tinggal. Hal ini membuat beberapa kali mengharuskan saya menemui klien secara langsung. Mobilitas! Ya. Satu hal wajib yang harus saya miliki yang selama ini terkendala dengan laptop ASUS A555L dimana memiliki berat hingga 2,1 Kg dengan dimensi layar 15,6 inch.

Kali ini Zenbook impian saya hadir dengan bobot hanya 1,4 Kg dan ketebalan 16,9 mm serta desain ringkas yang jelas akan membuat saya nyaman dalam membawanya bepergian. Tentunya kegiatan dalam menemui klien untuk pembahasan brief pembuatan website akan lebih mudah dan tidak “menyiksa”. Ringan namun high performance! Belum lagi durability dari laptop ini yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai bukti, laptop ini sudah mengantongi sertifikat uji ketahanan berstandar US Military Grade (MIL-STD 810H). Rangkaian pengujian ekstrem seperti tes jatuh, tes getaran, hingga tes operasional pada lingkungan ekstrem telah dilewati sebagai tanggungjawab ASUS dalam menghadirkan produk yang memiliki daya tahan super.

Proses pembuatan website dari awal pitching dengan klien, pengerjaan, lalu revisi kembali dengan klien memerlukan mekanise kolaboratif yang semakin mudah jika bertemu langsung dengan yang bersangkutan. Saya yakin jika menggunakan laptop ini akan mempermudah seluruh proses tersebut karena fitur 180⁰ErgoLift Hinge. Ini akan memudahkan dan membuat nyaman saya ketika harus “berbagi” layar dengan partner maupun dengan klien dalam 1 meja terkait brief website. Tidak perlu lagi geser sana-sini. Selain itu jika layar laptop dibuka maka body utama laptop akan terangkat sehingga membuat saya lebih nyaman dalam mengetik dan bekerja.

Bayangkan betapa mudahnya berbagi konten secara langsung dalam proses kolaborasi

Selama proses menemukan cocok tidaknya desain website, hal yang tidak kalah penting adalah menyajikan preview ke klien dalam beberapa mode resolusi layar. Nah ini menjadi kendala ketika saya harus menampilkannya di pertemuan langsung. Laptop yang saat ini saya gunakan masih memiliki resolusi 1366 x 768 Pixel. Sementara kebanyakan laptop saat ini sudah memiliki resolusi FHD. Hal ini membuat saya memutuskan untuk membeli monitor dengan resolusi FHD untuk mendokumentasikan preview tersebut lalu mengirimkan ke klien. Sedikit menjawab masalah, namun jauh dari kata efisien. Zenbook 14X OLED inilah yang menjadi jawaban sempurna atas kendala per-resolusian yang saya alami. Memiliki resolusi 2.8K (2880×1800) dan ratio 16:10 tentunya membuat pekerjaan saya jauh lebih efisien dimana saat itu juga saya dapat menyajikan preview website di device dengan resolusi tinggi.

Monitor eksternal untuk menjawab resolusi laptop saya yang masih belum FHD ~ bikin mobilitas berkurang

Berbicara mobilitas tentunya kita tidak ingin direpotkan dengan keharusan membawa add-on untuk mendukung konektifitas laptop dengan device lain. Membawa dongle kemana-mana tentunya hal yang merepotkan dan mempengaruhi efisiensi serta produktifitas. Tenang saja, problem ini tidak berlaku untuk Si Zenbook impian. Pasalnya laptop ini sudah dilengkapi dengan beragam port wajib untuk dihubungkan dengan berbagai perangkat lain. Adanya port seperti HDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, hingga MicroSD dan 3.5mm combo audio jack akan memudahkan saya dalam bekerja. Port USB Type-C Thunderbolt™ 4 yang hadir dengan kecepatan transfer data hingga 40Gbps juga dapat difungsikan sebagai konektor monitor dengan resolusi hingga 8K, serta sebagai charging port dimana saya bisa nge-cas laptop dengan powerbank. Gila, benar-benar ultraportable ini laptop!

Worry-less video conference

Banyak kegiatan meeting dituntut untuk dilakukan secara online. Di bidang akademis saya kerap kali menghadiri seminar penelitian serta bimbingan dengan dosen terkait dengan tesis. Mayoritas dilakukan secara online dan mengharuskan saya melakukannya dari tempat yang benar-benar sunyi agar suara yang tidak diinginkan tidak terdengar ke audience ketika saya on-audio. Pun juga dengan meeting 2 mingguan sekali yang saya adakan untuk portal berita yang saya kelola. Namun kekhawatiran dan kerepotan akan hal tersebut tidak akan terjadi lagi jika saya menggunakan Zenbook 14X OLED ini.

NWOSU SGA no Twitter: "Our second round of honorable mention memes!  https://t.co/fy5ttm5Rg9" / Twitter
Mimpi buruk, namun sering terjadi 😀 ~ Via: Twitter.com

Laptop ini sudah dibekali dengan teknologi Artificial Intelligence terbaru dalam hal noise cancellation. Teknologi AI yang diusung oleh ASUS ini menggunakan pembelajaran mesin untuk mengisolasi kebisingan yang tidak diinginkan dari suara kita. Fitur ClearVoice Mic di aplikasi MyASUS dapat menyaring kebisingan di sekitar, dan menormalkan semua suara individu dari posisi berbeda untuk kualitas suara yang optimal. Fitur ClearVoice Speaker menyaring semua kebisingan sekitar selain suara kita. Jadi audience akan mendengar apa yang dikatakan oleh pembicara dengan jelas. Fitur yang sangat membantu saya dalam melakukan meeting secara online darimana saja tanpa terganggu suara bising. Ditambah lagi kualitas output audio yang istimewa hasil kolaborasi dengan Harman Kardon membuat meeting atau sekedar multimedia entertainment semakin nyaman.

A vision of brilliance

A vision of brilliance – Merupakan tagline yang diusung oleh ASUS untuk produk Zenbook 14X OLED ini. Laptop 14 inch pertama di dunia yang memiliki teknologi layar OLED HDR display dengan resolusi 4K. Tidak lengkap rasanya jika tidak membahas betapa membantunya display laptop ini untuk mendukung produktifitas saya.

Berbeda dengan kebanyakan laptop di kelasnya, rasio tampilan layar laptop ini menggunakan 16:10 yang tersaji dalam kemasan NanoEdge. Fitur ini memberikan 18% workspace yang lebih luas daripada laptop dengan rasio 16:9. Sangat cocok untuk proses pembuatan dan preview website yang lebih lega tanpa harus scroll keatas atau bawah lebih sering. Pun begitu dengan kegiatan menulis di beberapa blog yang saya kelola serta pengerjaan tesis saya saat ini. Perpaduan resolusi dan rasio display yang sempurna!

Desain NanoEdge dengan rasio layar 16:10, makin lega ~ Via: Asus.com

Mengapa harus laptop ASUS dengan layar OLED?

Setelah mengetahui perbandingan berikut, saya mulai memahami mengapa saat ini teknologi display laptop berganti ke OLED. Banyak untungnya! Saya dan kalian harus segera pakai laptop ASUS dengan display OLED. Nih detail perbandingannya:

Keunggulan ASUS OLED dibanding laptop dengan layar LCD. Menang banyak! ~ Via: Asus.com

Eye Care

Ada pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Keseharian saya yang tidak bisa lepas dari depan laptop dengan durasi berjam-jam menimbulkan resiko penurunan fungsi penglihatan. Hal ini dipicu oleh sinar biru yang dihasilkan dari dari layar laptop. Sinar ini membuat mata cepat lelah serta mengakibatkan gangguan tidur. Namun dengan hadirnya teknologi OLED dari ASUS ini membuat kadar sinar biru bisa direduksi hingga 70% dibandingkan sinar biru dari laptop non-OLED. Tidak perlu khawatir, besarnya reduksi sinar biru ini tidak mengorbankan kualitas dan ketepatan warna layar. Fitur ini juga bermanfaat bagi para orang tua yang sering mengajak buah hati bermain bersama menggunakan aplikasi di laptop.

Bekerja darimana saja membuat saya tidak selalu bisa memprediksi kondisi pencahayaan ruangan yang akan saya tempati. Laptop dengan LCD biasa kualitas dan detail warnanya akan menurun seiring dengan menurunnya pencahayaan di ruangan. Tentunya hal seperti ini tidak perlu dikhawatirkan lagi jika saya menggunakan Zenbook 14X OLED ini karena teknologi OLED dapat menjaga detail warna di pencahayaan yang redup. Jadi dengan konfigurasi pencahayaan layar yang lebih bebas kita atur, kualitas dan detail warna akan tetap terjaga. Perbandingan pencahayaan yang diperlukan untuk mendapatkan gambar yang jelas antara OLED dan LCD bisa dikatakan sangat terasa. Dalam laman resminya ASUS mencontohkan bahwa dengan OLED hanya memerlukan pencahayaan 177 nits untuk mendapatkan gambar yang sama jelasnya dengan LCD pada pencahayaan 400 nits. Merujuk kembali ke sinar biru, tingkat pencahayaan rendah yang diperlukan laptop OLED membuat emisi sinar biru makin rendah. Makin nyaman bekerja didepan laptop tanpa khawatir sinar biru, kan…

Tampilan layar LCD dan OLED dengan pencahayaan masing-masing 150 nits, perbedaan yang jauh bukan? ~ Via: Asus.com

Bumbu Wajib

Kegiatan sehari-hari yang mayoritas didepan laptop membuat saya jenuh atau lebih tepatnya pegal-pegal kurang gerak. Saya berpikiran untuk mencari kegiatan baru yang merupakan aktifitas fisik. Maklum grup futsal sudah berbulan-bulan vakum tanpa alasan. Akhirnya saya dan seorang teman memutuskan untuk melakukan hal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Belajar skateboard!

Lagi-lagi gayung bersambut. Di awal muncul ide itu, saya langsung berpikiran untuk membuat daily journal berupa video dengan tajuk “30 days learn to skate”. Sempat ragu dengan performa laptop yang saat ini saya pakai. Namun angin segar kehadiran Zenbook 14X OLED ini membuat saya kembali terlecut untuk mengemas video journal tersebut dengan apik. Ya dengan semangat bring everything to life yang diusung, sesuai dengan keinginan saya untuk mendokumentasikan tantangan baru ini dengan visual yang lebih hidup!

hari ke 3 belajar skateboard 😀

Sengaja untuk tidak saya sebutkan sebelumnya, bahwa laptop ini juga ramah banget untuk para kreator konten grafis dan video. Hadirnya chip Intel® Iris Xe Graphics dan juga NVIDIA® GeForce® MX450 membuat Zenbook 14X OLED (UX5400) memiliki kemampuan pemrosesan grafis mumpuni yang menjawab kebutuhan content creator. Berikut hasil benchmark 3DMark Graphic test:

Benchmark Asus Zenbook 14X OLED UX5400EG
Graphic Benchmark ~ Via: Laptophia.com

Saya bukanlah seorang profesional atau sudah lama berkutat dengan software edit video. Namun skill upgrade adalah hal yang harus dilakukan jika tidak ingin tertinggal di belantara profesi sebagai digitalpreneur. Salah satunya editing video. Apa yang diniati untuk dipelajari akan membuahkan hasil. Terlebih proses belajarnya semakin menyenangkan dengan adanya device yang mumpuni seperti Si Zenbook ini. Makin tidak sabar untuk menyentuh fitur fingerprint loginnya dengan jari saya 😀

Semoga cepat kesampaian mencet tombol itu tuh ~ Via: Asus.com

Lebih dari menciptakan ide dan belajar hal baru, bagi saya, tahun ini adalah penanda lahirnya saya yang baru. Saya sebagai pribadi yang tidak ragu untuk mengeksekusi dengan penuh tanggungjawab. Diawali dengan keputusan besar untuk resign dan fokus pada 2 bidang yakni akademik dan digitalpreneurship. Rangkaian kegiatan sudah mulai saya jalankan untuk mendukung terwujudnya impian dan keinginan. Seperti bagaimana keinginan untuk segera memiliki laptop idaman ini untuk mendukung berjalannya semua keputusan yang diambil. Yes, a big decision needs a great companion. Dan pilihan telah jatuh ke ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400): A Vision of Brilliance ~

Saya dan The Wall of Jericho Plans yang menunggu giliran untuk dieksekusi

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.